TARI PENDET dari BALI
Tari Pendet
|
Seperti
dikutip dari ISI Denpasar, lahirnya tari Pendet adalah sebuah ritual sakral odalan di pura yang
disebut mamendet atau mendet. Prosesi
mendet berlangsung setelah pendeta mengumandangkan puja mantranya dan seusai
pementasan topeng sidakarya teater
sakral yang secara filosofis melegitimasi upacara keagamaan. Hampir setiap
pura besar hingga kecil di Bali disertai dengan aktivitas mamendet. Pada
beberapa pura besar seperti Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung
itu biasanya secara khusus menampilkan ritus mamendet dengan tari Baris
Pendet untuk
pemujaan. Lambat-laun, seiring perkembangan
zaman, para seniman Bali
mengubah Pendet menjadi “ucapan selamat datang”, meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius.
Tari
Pendet bercerita tentang turunnya dewi-dewi kahyangan ke bumi. Biasanya
menurut gentra.lk.ipb.ac.id, Tari Pendet
dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, atau secara
masal oleh kaum pria dengan membawakan perlengkapan sesajen dan bunga. Dan lebih dinamis dari tari Rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang di halaman Pura
dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih).
Para
penari Pendet berdandan layaknya para penari upacara keagamaan yang sakral
lainnya, dengan memakai pakaian upacara, masing-masing penari membawa
perlengkapan sesajian persembahan seperti sangku (wadah air suci), kendi,
cawan, dan yang lainnya.
Pada
dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari
perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam
memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif.
Pencipta
atau koreografer bentuk modern tari Pendet ini adalah I Wayan Rindi
(?-1967), merupakan penari yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan
kemampuan menggubah tari dan melestarikan seni tari Bali melalui pembelajaran
pada generasi penerusnya. Semasa hidupnya ia aktif mengajarkan beragam tari
Bali, termasuk tari Pendet kepada keturunan keluarganya maupun di luar
lingkungan keluarganya.
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar