Meskipun banyak pergolakan pada masa Khalifah Ali bin
Abi Thalib, banyak hal yang dilakukan dalam usaha pengembangan Islam, baik
perkembangan dalam bidang sosial, politik, militer, dan ilmu pengetahuan.
Situasi umat Islam pada masa pemerintahan Khalifah Ali
bin Abi Thalib sudah sangat jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Umta
Islam pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab masih bersatu,
mereka memiliki banyak tugas yang harus diselesaikannya, seperti tugas
melakukan perluasan wilayah Islam dan sebagainya. Selain itu, kehidapan
masyarakat Islam masih sangat sederhana karena belum banyak terpengaruh oleh
kemewahan duniawi, kekayaan dan kedudukan.
Namun pada masa pemerintahan pada masa Khalifah Usman
bin Affan keadaan mulai berubah. Perjuangan pun sudah mulai terpengaruh oleh
hal-hal yang bersifat duniawi.Oleh karena itu, beban yang harus dipikul oleh
penguasa berikutnya semakin berat.Usaha-usaha Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam
mengatasi persoalan tersebut tetap dilakukannya, meskipunia dapat tantangan
yang sangat luar biasa. Semua itu bertujauan agar masyarakat merasa aman,
tentram dan sejahtera. Usaha-usaha yang dilakuakan semasa kepemimpinannya
adalah sebagai berikut:
a. Mengganti Para Gubernur yang Diangkat Khalifah Usman bin Affan
Semua Gubernur yang diangkat oleh Khalifah Usman bin
Affan terpaksa diganti, karena banyak masyarakat yang tidak senang. Menurut
pengamatan Khalifah Ali bin Abi Thalib para gubernur inilah yang menyebabkan
timbulnya berbagai gerakan pemberontakan terhadap pemerintahan Khlalifah Usman
bin Affan. Mereka melakukan hal itu karena Khalifah Usman pada paruh kedua masa
kepemimpinannya tidak mampu lagi melakukan kontrol terhadap para penguasa yang
berada dibawah kepemimpinannya. Hal itu disebabkan karena usianya yang sudah
lanjut usia, selain para Gubernur sudah tidak banyak lagi yang memiliki
idealisme untuk memperjuangkan dan mengembangkan Islam. Pemberontakan ini pada
akhirnya membuat sengsara rakyat banyak, sehingga rakyatpun tidak suka terhadap
mereka.Berdasarkan pengamatan inilah kemudian Khalifah Ali bi Abi Thalib
mencopot mereka.
Adapun para Gubernur baru yang diangkat Khalifah Ali
bin Abi Thalib sebagai pengganti Gubernur lama ialah:
1). Sahl bin Hanif sebagai Gubernur Syiria.
2). Usman bin Hanif sebagai Gubernur Basrah.
3). Qays bin Sa’ad sebagai Gubernur Mesir.
4). Umrah bin Syihab sebagai Gubernur Kufah.
5). Ubaidah bin Abbas sebagi Gubernur Yaman.
b. Menarik Kembali Tanah Milik Negara
Pada masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan banyak
para kerabatnya yang diberikan fasilitas dan kemudahan dalam berbagai bidang
hingga banyak diantara mereka yang kemudian merongrong pemerintahan Khalifah
Usman bin Affan dan harta kekayaan Negara. Oleh karena itu, Ali bin ABi Thalib
menjadi Khalifah, ia memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk
menyelesaikan persoalan tersebut. Ia berusah menarik kembali semua tanah
pemberian Usman bin Affan kepada keluarganya untuk dijadikan milik Negara.
Usaha ini bukan tidak mendapat
tantangan. Khalifah Ali bin Abi Thalib banyak mendapat perlawanan dari para
penguasa dan kerabat mantan Khalifah Usman bin Affan. Salah seorang yang dengan
tegas terus terang menantang Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah Muawiyah bin
Abi Sufyan.Muawiyah menantang karena dia sendiri tengah terancam kedudukannya
sebagai gubernur Syiria. Untuk menghambat gerakan Khalifah Ali bin Abi Thalib,
Muawiyah melakukan hasutan kepada para sahabat lainnya supaya menentang rencana
Khalifah. Selain itu, ia melakukan kerja sama dengan para mantan Gubernur yang
dicopot Khalifah Ali bin ABi Thalib. Usaha ini berhasil, misalnya timbulnya
perang Jamal, Perang Shiffin dan sebagainya.
Semua tindakan Khalifah Ali bin Abi
Thalib semata bertujuan untuk membersihkan praktik kolusi, korupsi dan
nepotisme di dalam pemerintahannya. Namun sayang, situasinya tidak tepat,
sehingga Khalifah Ali bin Abi Thalib menanggung segala resikonya. Ia tewas
terbunuh dari tangan orang yang tidak menyukainya.
c. Dalam Bidang Politik Militer
Khalifah Ali bin Abi Thalib memiliki banyak kelebihan,
kecerdasan, ketelitian ketegasan, keberanian dan sebagainya. Karena ketika ia
terpilih sebagai Khalifah, jiwa dan semangat itu masih membara di dalam
dirinya. Banyak usaha yang dilakukannyatermasuk bagaimana merumuskan sebuah
kebijakan untuk kepentingan Negara, agama dan umat Islam kemasa depan yang
lebih cemerlang. Selain itu, dia juga terkenal sebagai pahlawan yang gagah
berani, penasehat yang bijaksana, penasehat hukum yang ulung, dan pemegang
teguh tradisi, seorang sahabat sejati dan seorang kaean yang dermawan. Dia
telah bekerja keras sampai akhir hayatnya dan merupakan orang kedua yang
berpengaruh setelah Nabi Muhammad saw.
Khalifah Ali bin Abi Thalib sejak masa mudanya amat
terkenal dengan sikap dan sifat keberaniannya, baik dalam keadaan damai ataupun
dalam situasi serius. Beliau amat tahu medan dan tipu daya musuh. Ini kelihatan
sekali pada saat perang shiffin. Dalam perang ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib
mengetahui benar bahwa siasat yang dibuat oleh Muawiyah bin Abi Sufyan hanya
untuk memperdaya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Mislanya, ketika Muawiyah
menempatkan al-Qur’an diujung tombak sebagia isyarat perdamaiyan. Khalifah Ali
bin ABi Thalib menolak ajakan damai, karena dia sangat mengetahui bahwa
Muawiyah adalah orang sangat licik.
Namun para sahabatnya mendesak agar menerima tawaran
perdamaian itu. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan istilahThkim
(arbitraser) di Daumatul Jandal pada tahun 34 H.
peristiwa ini sebenarnya merupakan bukti kelemahan dalam sistem dalam
pertahanan pada masa Khalifah Ali. Khalifah Ali telah berusaha meperbaiki
sistem yang berada, namun selalu dikalahkan oleh sekelompok orang yang tidak
senang terhadap kepemimpinannya.
Akibat peristiwa tahkim ini, timbullah
tiga golongan di kalangan umat Islam, yaitu; kelompok Khawarij, kelompokMurji’ah, dan
kelompok Syi’ah (pengikut Ali).Ketiga kelompok ini pada masa
berikutnya merupakan golongan yang sangat kuat dan mewarnai perkembangan
pemikiran dalam Islam.
d. Dalam Bidang Ilmu Bahasa
Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, wilayah
kekuasaan Islam telah melampaui sungai Eufrat, Tigris dan Amu Dariyah, bahkan
sampai Indus, akibat luasnya wilayah kekuasaan Islam dan banyaknya masyarakat
yang bukan berasal dari kalangan masyarakat Arab memluk Islam, banyak ditemukan
kesalahan dalam membaca teks al-Qur’an atau hadis sebagai sumber hokum Islam,
Khalifah Ali bin Abi Thalib menganggap bahwa kesalahan ini sangat fatal,
terutama bagi orang-orang yang akan mempelajari ajaran Islam dari sumber
aslinya yang berbahasa Arab. Oleh karena itu, Khalifah memerintahkan Abu
Al-Aswadal-Duali mengarang pokok-pokok ilmu Nahwu Qawaid
Nabahab).
Dengan adanya ilmu nahwu yang dijadikan sebagai
pedoman dasar dalam mempelajari bahasa al-Qur’an, maka orang-orang yang bukan
berasal dari masyarkat Arab akan mendapatkan kemudahan dalam membaca dan
memahami sumber ajaran Islam.
e. Dalam Bidang Pembangunan
Pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib,
mendapat usaha positif yang dilaksanakannya, terutama dalam masalah tata kota.
Salah satu kota yang dibangun adalah kota Kufah. Semula pembangunan kota Kufah
ini bertujuan poliitis untuk dijadikan sebagai basis pertahanan kekuatan Ali
bin Abi Thalib, dari berbagai rongrongan para pembangkang, misalnya, Muawiyah
bin Abi Sufyan. Akan tetapi lama-kelamaan kota tersebut berkembang, menjadi
kota yang sangat ramai dikunjungi bahkan kemudian menjadi pusat perkembangan
ilmu pengetahuan keagamaan, seperti perkembangan ilmu nahwu, tafsir, hadis dan
sebagainya.
Pembangunan kota Kufah ini dimaksudkan sebagai salah
satu cara Khalifah Ali bin Abi Thalib mengontrol kekuatan Muawiyah yang sejak
semula tidak mau tunduk terhadap perintahnya. Karena letaknya yang tidak begitu
jauh dengan pusat pergerakan Muawiyah bin Abi Sufyan, maka boleh dibilang kota
ini sangat strategis bagi pertahan Khalifah.
DAFTAR ISI
Dr. H. Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, Toha Putra, Semarang.
2009
Hasan Ibrahim, Sejarah Kebudayaan Islam, Kota kembang,
Yogyakarta. 1999
Dr. Badri Yatim, M. A. Sejarah Peradabab Islam, Raja Wali
Prees, Jakarta. 2008
Hamka, Sejarah Ummat Islam, Bulan Bintang, Jakarta. 1981
Dr. Ali Murodi, Islam dikawasan kebudayaan Arab, logo wacana
ilmu, Ciputat. 1997

Tidak ada komentar:
Posting Komentar