Minggu, 11 Mei 2014

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA ALI BIN ABI THOLIB




Meskipun banyak pergolakan pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, banyak hal yang dilakukan dalam usaha pengembangan Islam, baik perkembangan dalam bidang sosial, politik, militer, dan ilmu pengetahuan.
Situasi umat Islam pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib sudah sangat jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Umta Islam pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab masih bersatu, mereka memiliki banyak tugas yang harus diselesaikannya, seperti tugas melakukan perluasan wilayah Islam dan sebagainya. Selain itu, kehidapan masyarakat Islam masih sangat sederhana karena belum banyak terpengaruh oleh kemewahan duniawi, kekayaan dan kedudukan.
Namun pada masa pemerintahan pada masa Khalifah Usman bin Affan keadaan mulai berubah. Perjuangan pun sudah mulai terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat duniawi.Oleh karena itu, beban yang harus dipikul oleh penguasa berikutnya semakin berat.Usaha-usaha Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam mengatasi persoalan tersebut tetap dilakukannya, meskipunia dapat tantangan yang sangat luar biasa. Semua itu bertujauan agar masyarakat merasa aman, tentram dan sejahtera. Usaha-usaha yang dilakuakan semasa kepemimpinannya adalah sebagai berikut:
a.      Mengganti Para Gubernur yang Diangkat Khalifah Usman bin Affan
Semua Gubernur yang diangkat oleh Khalifah Usman bin Affan terpaksa diganti, karena banyak masyarakat yang tidak senang. Menurut pengamatan Khalifah Ali bin Abi Thalib para gubernur inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai gerakan pemberontakan terhadap pemerintahan Khlalifah Usman bin Affan. Mereka melakukan hal itu karena Khalifah Usman pada paruh kedua masa kepemimpinannya tidak mampu lagi melakukan kontrol terhadap para penguasa yang berada dibawah kepemimpinannya. Hal itu disebabkan karena usianya yang sudah lanjut usia, selain para Gubernur sudah tidak banyak lagi yang memiliki idealisme untuk memperjuangkan dan mengembangkan Islam. Pemberontakan ini pada akhirnya membuat sengsara rakyat banyak, sehingga rakyatpun tidak suka terhadap mereka.Berdasarkan pengamatan inilah kemudian Khalifah Ali bi Abi Thalib mencopot mereka.
Adapun para Gubernur baru yang diangkat Khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti Gubernur lama ialah:
1). Sahl bin Hanif sebagai Gubernur Syiria.
2). Usman bin Hanif sebagai Gubernur Basrah.
3). Qays bin Sa’ad sebagai Gubernur Mesir.
4). Umrah bin Syihab sebagai Gubernur Kufah.
5). Ubaidah bin Abbas sebagi Gubernur Yaman.

b.      Menarik Kembali Tanah Milik Negara
Pada masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan banyak para kerabatnya yang diberikan fasilitas dan kemudahan dalam berbagai bidang hingga banyak diantara mereka yang kemudian merongrong pemerintahan Khalifah Usman bin Affan dan harta kekayaan Negara. Oleh karena itu, Ali bin ABi Thalib menjadi Khalifah, ia memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Ia berusah menarik kembali semua tanah pemberian Usman bin Affan kepada keluarganya untuk dijadikan milik Negara.
      Usaha ini bukan tidak mendapat tantangan. Khalifah Ali bin Abi Thalib banyak mendapat perlawanan dari para penguasa dan kerabat mantan Khalifah Usman bin Affan. Salah seorang yang dengan tegas terus terang menantang Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah Muawiyah bin Abi Sufyan.Muawiyah menantang karena dia sendiri tengah terancam kedudukannya sebagai gubernur Syiria. Untuk menghambat gerakan Khalifah Ali bin Abi Thalib, Muawiyah melakukan hasutan kepada para sahabat lainnya supaya menentang rencana Khalifah. Selain itu, ia melakukan kerja sama dengan para mantan Gubernur yang dicopot Khalifah Ali bin ABi Thalib. Usaha ini berhasil, misalnya timbulnya perang Jamal, Perang Shiffin dan sebagainya.
      Semua tindakan Khalifah Ali bin Abi Thalib semata bertujuan untuk membersihkan praktik kolusi, korupsi dan nepotisme di dalam pemerintahannya. Namun sayang, situasinya tidak tepat, sehingga Khalifah Ali bin Abi Thalib menanggung segala resikonya. Ia tewas terbunuh dari tangan orang yang tidak menyukainya.
c.       Dalam Bidang Politik Militer
Khalifah Ali bin Abi Thalib memiliki banyak kelebihan, kecerdasan, ketelitian ketegasan, keberanian dan sebagainya. Karena ketika ia terpilih sebagai Khalifah, jiwa dan semangat itu masih membara di dalam dirinya. Banyak usaha yang dilakukannyatermasuk bagaimana merumuskan sebuah kebijakan untuk kepentingan Negara, agama dan umat Islam kemasa depan yang lebih cemerlang. Selain itu, dia juga terkenal sebagai pahlawan yang gagah berani, penasehat yang bijaksana, penasehat hukum yang ulung, dan pemegang teguh tradisi, seorang sahabat sejati dan seorang kaean yang dermawan. Dia telah bekerja keras sampai akhir hayatnya dan merupakan orang kedua yang berpengaruh setelah Nabi Muhammad saw.
Khalifah Ali bin Abi Thalib sejak masa mudanya amat terkenal dengan sikap dan sifat keberaniannya, baik dalam keadaan damai ataupun dalam situasi serius. Beliau amat tahu medan dan tipu daya musuh. Ini kelihatan sekali pada saat perang shiffin. Dalam perang ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib mengetahui benar bahwa siasat yang dibuat oleh Muawiyah bin Abi Sufyan hanya untuk memperdaya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Mislanya, ketika Muawiyah menempatkan al-Qur’an diujung tombak sebagia isyarat perdamaiyan. Khalifah Ali bin ABi Thalib menolak ajakan damai, karena dia sangat mengetahui bahwa Muawiyah adalah orang sangat licik.
Namun para sahabatnya mendesak agar menerima tawaran perdamaian itu. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan istilahThkim (arbitraser) di Daumatul Jandal pada tahun 34 H. peristiwa ini sebenarnya merupakan bukti kelemahan dalam sistem dalam pertahanan pada masa Khalifah Ali. Khalifah Ali telah berusaha meperbaiki sistem yang berada, namun selalu dikalahkan oleh sekelompok orang yang tidak senang terhadap kepemimpinannya.
Akibat peristiwa tahkim ini, timbullah tiga golongan di kalangan umat Islam, yaitu; kelompok Khawarij, kelompokMurji’ah, dan kelompok Syi’ah (pengikut Ali).Ketiga kelompok ini pada masa berikutnya merupakan golongan yang sangat kuat dan mewarnai perkembangan pemikiran dalam Islam.
d.      Dalam Bidang Ilmu Bahasa
Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, wilayah kekuasaan Islam telah melampaui sungai Eufrat, Tigris dan Amu Dariyah, bahkan sampai Indus, akibat luasnya wilayah kekuasaan Islam dan banyaknya masyarakat yang bukan berasal dari kalangan masyarakat Arab memluk Islam, banyak ditemukan kesalahan dalam membaca teks al-Qur’an atau hadis sebagai sumber hokum Islam, Khalifah Ali bin Abi Thalib menganggap bahwa kesalahan ini sangat fatal, terutama bagi orang-orang yang akan mempelajari ajaran Islam dari sumber aslinya yang berbahasa Arab. Oleh karena itu, Khalifah memerintahkan Abu Al-Aswadal-Duali mengarang pokok-pokok ilmu Nahwu Qawaid Nabahab).
Dengan adanya ilmu nahwu yang dijadikan sebagai pedoman dasar dalam mempelajari bahasa al-Qur’an, maka orang-orang yang bukan berasal dari masyarkat Arab akan mendapatkan kemudahan dalam membaca dan memahami sumber ajaran Islam.
e.      Dalam Bidang Pembangunan
Pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, mendapat usaha positif yang dilaksanakannya, terutama dalam masalah tata kota. Salah satu kota yang dibangun adalah kota Kufah. Semula pembangunan kota Kufah ini bertujuan poliitis untuk dijadikan sebagai basis pertahanan kekuatan Ali bin Abi Thalib, dari berbagai rongrongan para pembangkang, misalnya, Muawiyah bin Abi Sufyan. Akan tetapi lama-kelamaan kota tersebut berkembang, menjadi kota yang sangat ramai dikunjungi bahkan kemudian menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan keagamaan, seperti perkembangan ilmu nahwu, tafsir, hadis dan sebagainya.
Pembangunan kota Kufah ini dimaksudkan sebagai salah satu cara Khalifah Ali bin Abi Thalib mengontrol kekuatan Muawiyah yang sejak semula tidak mau tunduk terhadap perintahnya. Karena letaknya yang tidak begitu jauh dengan pusat pergerakan Muawiyah bin Abi Sufyan, maka boleh dibilang kota ini sangat strategis bagi pertahan Khalifah.

DAFTAR ISI
Dr. H. Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, Toha Putra, Semarang. 2009
Hasan Ibrahim, Sejarah Kebudayaan Islam, Kota kembang, Yogyakarta. 1999
Dr. Badri Yatim, M. A. Sejarah Peradabab Islam, Raja Wali Prees, Jakarta. 2008
Hamka, Sejarah Ummat Islam, Bulan Bintang, Jakarta. 1981
Dr. Ali Murodi, Islam dikawasan kebudayaan Arab, logo wacana ilmu, Ciputat. 1997

Tidak ada komentar:

Posting Komentar